Kalimat “akhirnya muncul juga” pantas diberikan kepada Huawei Ideos S7. Sebab, setelah mengalami penundaan dan fase ketidakpastian, peranti tablet android tersebut kini beredar resmi di tanah air.

Penulis kali pertama berjumpa dengannya pada acara CommunicAsia di Singapura, Juni tahun lalu. Saat itu ia masih bernama Huawei SmaKit S7. Dari sumber-sumber tepercaya, penulis memperoleh bocoran kabar bahwa S7 akan dijual di Indonesia paling lambat September 2010. Harga jualnya lebih dari Rp 3 juta, tetapi kurang dari Rp 4 juta.
Karena beberapa faktor, rencana itu batal. Fase ketidakpastian dimulai. Awal Desember 2010, ada informasi baru. Yakni, sebelum pergantian tahun, S7 bakal beredar di kisaran harga Rp 3,5 juta. Satu unit S7 malahan sempat dipajang pada stan pameran Huawei di WTC Surabaya. Rencana tersebut lagi-lagi tak terwujud.
Sekarang Huawei, XL, dan Teletama Artha Mandiri (TAM), salah satu pemain besar dalam distribusi peranti seluler tanah air, akhirnya berhasil mewujudkan impian yang tertunda. S7 resmi dipasarkan di Indonesia. Hal yang menarik, harga jualnya dikoreksi. Bukan naik, melainkan turun menjadi Rp 2,999 juta. Itu harga resminya. Harga pasar lebih rendah sekitar Rp 50 ribu.
S7 dibekali layar sentuh resistif tujuh inci dengan resolusi 800 x 480 piksel. Berbeda dengan, contohnya, CSL Handroid MI700 dan Axioo PicoPad yang sama-sama berlayar tujuh inci, layar S7 memanjang. Perbandingan ukuran layarnya 16:9.
Di bagian belakang S7 tersedia penyangga lipat. Jadi, kalau pengguna peranti itu ingin menonton video, mereka bisa melakukannya dengan lebih nyaman. Untuk bertelepon, pengguna memiliki tiga pilihan. Yaitu, bercakap via speaker phone, handsfree berkabel, atau handsfree bluetooth. Dua aksesori terakhir harus dibeli terpisah.

Sepasang kamera dibenamkan di peranti berdimensi fisik 20,9 x 10,8 x 1,55 cm dan berat 0,5 kilogram tersebut. Satu di sisi muka, satu lainnya di bagian belakang. Keduanya beresolusi dua megapiksel.
Untuk membaca file dokumen telah disertakan aplikasi Documents To Go. Spesifikasi lain S7, di antaranya, prosesor Qualcomm Snapdragon 8250 1GHz, RAM 256 MB, memori penyimpanan masal 8 GB, slot microSD, bluetooth, dan Wi-Fi.
Peranti bersistem operasi android 2.1 alias Eclair itu kompatibel dengan layanan HSPA berkecepatan unduh sampai 7,2 Mbps. Kendati dibundel oleh XL, S7 yang menggunakan baterai lithium 2.200 mAh bersifat unlocked. Ia bebas dipadukan dengan kartu SIM keluaran operator GSM mana pun.
Mengacu pada uji pakai yang dilakukan penulis, S7 pantas dipertimbangkan oleh pemburu tablet android atau android pad dengan anggaran pas-pasan. Daripada membeli replika iPad yang layanan purna jualnya tak jelas, lebih baik melirik merek Tiongkok yang telah mengglobal, bukan?
Beberapa hal yang mengurangi daya tariknya, selain berlayar resistif dan belum mengadopsi minimal android 2.2 alias Froyo, layar S7 tidak mendukung fitur multitouch. Dengan demikian, pengguna takkan bisa “mencubit” maupun membentangkan dua jari untuk memperkecil/memperbesar tampilan layar.
Pengguna Huawei Ideos S7 secara eksklusif dapat menikmati layanan XL Baca yang diluncurkan 8 Maret lalu. Dengan XL Baca, pengguna S7 bisa mengunduh dan membaca buku, koran, maupun majalah digital.

Saat ini XL telah bekerja sama dengan Mizan Digital Publishing, MRA Printed Media, Tempo, The Jakarta Post, Tiga Serangkai, dan Kompas Gramedia. Efektif bulan depan, ditargetkan akan tersedia 25 majalah, dua koran, dan minimal 900 judul buku.
Koleksi XL Baca dibagi dalam beragam kategori. Di antaranya, novel, buku anak, komik, dan bisnis. Ada pula hobi, pengembangan diri, koran nasional, majalah nasional, dan gaya hidup.

Pengguna, misalnya, bisa menemukan buku yang menceritakan sejarah Srimulat. Aneka buku resep masakan juga siap diunduh. Mau membaca buku berisi kumpulan cerpen? Ada. Salah satunya berjudul Siapa Bilang Kawin Itu Enak.
[ponselmu.com]